Pada 20 Oktober 2025, Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran menyelenggarakan kuliah umum bertajuk “Sosial Media: Lebih dari Sekadar Platform Komunikasi” yang menghadirkan Adinda Katrina Sudrajat, S.AB., selaku Full Stack Digital Marketer di PT Noore Sport Indonesia, sebagai narasumber utama. Kegiatan ini menjadi wadah bagi mahasiswa untuk memahami secara mendalam profesi social media specialist yang kini menjadi salah satu bidang kerja paling relevan di era berkembangnya media digital. Dalam pemaparannya, Adinda menekankan bahwa peran seorang social media specialist membutuhkan strategi komunikasi yang matang dan berorientasi pada hasil riset. Pada kesempatan ini, ia menjelaskan empat tahapan utama yang perlu dikuasai oleh seorang social media specialist, yaitu analisis pasar, pembuatan persona audiens, pemilihan platform, serta eksekusi dan perencanaan konten.
Tahap pertama adalah melakukan analisis pasar untuk memahami kebutuhan, perilaku, dan minat audiens sebagai dasar penyusunan strategi pemasaran digital yang lebih terarah. Dalam tahap ini, marketer dapat membangun audience persona, yakni gambaran rinci tentang kelompok audiens yang menjadi target utama pemasaran. Adinda menjabarkan lima langkah dalam membangun persona audiens, yaitu mengumpulkan data (collect data), mengenali pola perilaku audiens (identify pattern/grouping), melakukan segmentasi audiens (segment your audience), menyusun profil utama dan pendukung (create personal profiles), serta meninjau dan memperbarui persona secara berkala (validate and iterate).
Selanjutnya, tahap kedua adalah membuat konten yang selaras dengan persona yang telah disusun. Menurutnya, persona audiens berfungsi sebagai “kompas kreatif” yang mengarahkan pesan, gaya visual, dan nada komunikasi agar sesuai dengan nilai dan kebutuhan audiens. Dalam praktik pemasaran dan komunikasi digital, persona audiens memang umumnya dibagi menjadi dua jenis utama, yakni primary persona & secondary persona. Primary persona merupakan representasi dari kelompok audiens utama yang menjadi fokus utama strategi komunikasi atau pemasaran. Mereka adalah target yang paling potensial untuk membeli produk, menggunakan layanan, atau berinteraksi secara aktif dengan konten. Berbeda dengan primary persona, secondary persona adalah kelompok audiens tambahan yang mungkin tidak menjadi fokus utama, tetapi tetap penting untuk diperhatikan karena bisa memengaruhi atau berkontribusi terhadap tujuan komunikasi konten. Misalnya, mereka dapat menjadi pihak yang membantu menyebarkan konten kepada orang lain.
Pada tahap ketiga, Adinda menyoroti pentingnya memilih platform media sosial yang tepat dengan membedakannya menjadi tiga kategori utama, yaitu owned media (kanal yang dikelola langsung seperti media sosial dan website), earned media (publikasi organik melalui ulasan atau partisipasi pengguna), dan paid media (kanal berbayar seperti iklan digital dan kolaborasi influencer).
Tahapan keempat adalah eksekusi dan perencanaan konten. Dalam segmen ini, Adinda menjelaskan bahwa setiap platform memiliki karakteristik yang berbeda. Misalnya, platform Instagram cocok untuk konten educational carousels dan reels berdurasi 15–30 detik. Lalu, TikTok menjadi platform yang cocok bagi jenis konten relatable first-person explainer dan trend hijacking using viral sounds. Dalam tahap eksekusi ini, Adinda juga menyoroti tiga komponen penting, yaitu content pillar, content card, dan content plan. Content pillar merupakan tema besar atau fondasi utama strategi konten, sedangkan content card adalah turunan ide yang lebih spesifik dan kontekstual dari pilar tersebut. Adapun content plan merupakan panduan terstruktur dalam menentukan jadwal, frekuensi, serta pembagian peran dalam produksi konten.
Seusai sesi pemaparan, kegiatan dilanjutkan dengan workshop interaktif. Mahasiswa dibagi ke dalam beberapa kelompok dan diminta merancang strategi media sosial untuk platform Divia TV, termasuk memberikan contoh tiga jenis konten yang menarik sesuai dengan karakteristik platform tersebut. Setelah berdiskusi, salah satu kelompok mahasiswa diajak untuk mempresentasikan hasil diskusinya di hadapan kelompok lain. Setelah sesi interaktif, kuliah umum ditutup dengan sesi dokumentasi yang melibatkan narasumber, dosen pengampu, serta seluruh partisipan mahasiswa.
Melalui kuliah umum ini, mahasiswa memperoleh wawasan praktis mengenai pentingnya sinergi antara kreativitas dan analisis data dalam mengelola platform komunikasi digital. Kegiatan ini juga selaras dengan komitmen Universitas Padjadjaran terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB), terutama pada poin ke-4, Pendidikan Berkualitas, poin ke-8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi, serta poin ke-9: Inovasi dan Infrastruktur. Ketiga poin tersebut turut menegaskan peran pendidikan tinggi dalam mencetak lulusan yang cakap digital dan mampu berkontribusi pada pembangunan komunikasi yang berkelanjutan di era transformasi digital.
