Pada 22 Oktober 2025, Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran mengadakan kuliah umum bertajuk “Dongker dan Budaya Partisipatif dalam Musik”. Kegiatan ini menghadirkan Band Dongker, grup musik beraliran punk asal Bandung, sebagai narasumber utama. Acara tersebut menjadi ruang diskusi yang menarik antara dunia akademik dan praktik budaya populer, khususnya dalam memahami bagaimana musik dapat berperan sebagai medium ekspresi sosial sekaligus bentuk partisipasi budaya di era digital.
Pada segmen awal, Arno Zarror selaku vokalis sekaligus gitaris Dongker membagikan kisah mengenai proses terbentuknya band tersebut. Ia menjelaskan bahwa Dongker lahir dari ruang kreatif mahasiswa di Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Teknologi Bandung (FSRD ITB). Nama “Dongker” sendiri berasal dari istilah “Bodong Kekar” yang menggambarkan semangat mereka sebagai musisi muda yang masih “bodong” atau baru lahir dalam dunia musik. Sementara “kekar” maksudnya adalah tangguh menghadapi tantangan. Filosofi ini mencerminkan karakter khas Dongker yang mandiri, eksperimental, serta berani menciptakan karya di luar arus utama.
Delpi Suhariyanto, gitaris Dongker, menyoroti latar sosial yang turut membentuk identitas band tersebut, yaitu konflik Tamansari Bandung. Konflik ini merupakan sengketa antara warga RW 11 Kelurahan Tamansari, Kecamatan Bandung Wetan, dengan Pemerintah Kota Bandung terkait proyek pembangunan rumah deret (rusunawa) pada periode 2017-2019. Pemerintah kala itu berencana menata kawasan padat penduduk melalui pembangunan hunian vertikal, tetapi lokasi proyek tersebut berada di atas lahan tempat tinggal warga yang telah bermukim secara turun-temurun. Melihat situasi tersebut, Dongker terlibat dalam aktivisme sosial, salah satunya dengan cara membawakan lagu “Tuhan di Reruntuh Kota” di lokasi penggusuran. Tindakan tersebut dilakukan sebagai bentuk solidaritas dan perlawanan mereka terkait sengketa ini. Lebih lanjut, mereka mengungkapkan bahwa mereka juga pernah melakukan aktivisme di ruang digital. Aktivisme tersebut dilakukan melalui penampilan lagu “Bertaruh pada Api” di platform game Roblox yang tengah populer di Indonesia. Langkah ini dilakukan sebagai upaya Dongker dalam menghadirkan bentuk baru budaya partisipatif dengan memanfaatkan media digital sebagai ruang alternatif untuk menyuarakan gagasan sosial
Kemudian, segmen dilanjut dengan pembahasan terkait makna musik bagi personil Dongker. Bagi mereka, musik bukan sekadar hiburan, melainkan medium untuk menyampaikan gagasan dan isu sosial. Berdasarkan karya-karyanya, Dongker kerap menyoroti tiga tema utama, yaitu kesehatan mental, gender, dan ekologi. Arno menyatakan bahwa manusia tidak dapat dipisahkan dari seni karena seni merupakan bentuk ekspresi sekaligus perlawanan terhadap berbagai ketimpangan yang ada. Arno turut menegaskan pula bahwa bagi Dongker, “melawan adalah sebuah seni,” dan tanpa semangat perlawanan, seni hanya akan menjadi sesuatu yang bersifat dekoratif semata.
Penggunaan balaclava yang kerap mereka kenakan juga turut dibahas. Balaclava adalah penutup kepala yang menutupi sebagian besar wajah dan biasanya digunakan untuk sebagai identitas simbolik dalam berbagai konteks budaya. Arno menjelaskan bahwa awalnya mereka mengenakannya karena balaclava dikenal sebagai simbol perlawanan bagi grup band punk. Namun, seiring waktu, simbol tersebut berkembang menjadi elemen artistik dengan berbagai desain yang unik dan menarik. Arno bersama Delpi turut membagikan kisah di balik masing-masing desain balaclava yang digunakan oleh Dongker.
Istilah Balada Dongkap menjadi topik dalam segmen selanjutnya. Balada Dongkap merupakan sebutan bagi para penggemar Dongker. Arno menyampaikan bahwa hubungan antara band dan penggemarnya terjalin dengan sangat baik. Nama Balada Dongkap merupakan inisiatif dari para penggemar yang ingin membentuk identitas komunitas mereka. Hubungan tersebut berjalan harmonis tanpa adanya gangguan atau perilaku yang merugikan dari pihak penggemar.
Segmen tanya jawab lantas menjadi penutup diskusi. Salah satu pertanyaan menarik yang muncul, berkaitan dengan identitas band pada merchandise yang dijual. Delpi menjelaskan bahwa identitas Dongker tidak dibentuk hanya dari aktivitas komersial. Ia mencontohkan bahwa salah satu bentuknya adalah ketika merchandise mereka dijual untuk tujuan donasi, sehingga memiliki nilai sosial yang lebih dari sekadar produk dagang. Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi dokumentasi bersama seluruh peserta.
Adapun kegiatan ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB), khususnya poin 11 Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan serta poin 17 Kemitraan untuk Mencapai Tujuan. Diskusi bersama Dongker mencerminkan kolaborasi antara dunia akademik dan komunitas kreatif dalam memperkuat kesadaran akan peran budaya populer sebagai sarana edukasi dan ekspresi sosial.
