HomeTriviaEkspedisi Patriot, Riset, dan Pengabdian Anak Muda untuk Negeri

Ekspedisi Patriot, Riset, dan Pengabdian Anak Muda untuk Negeri

Ekspedisi Patriot merupakan sebuah gerakan pengabdian berbasis riset yang melibatkan ribuan anak muda Indonesia untuk turut serta membangun negeri. Tahun ini, sebanyak 2.000 pemuda dari seluruh Indonesia diterjunkan untuk mengabdi di 154 kawasan transmigrasi. 

Fokus utama kegiatan adalah melakukan riset dan pemetaan potensi ekonomi yang dapat mendukung pencapaian Asta Cita yang dicanangkan oleh pemerintahan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming di kawasan transmigrasi. Melalui kegiatan riset tersebut, tim Ekspedisi Patriot akan menyusun dokumen pengembangan komoditas unggulan yang dilengkapi dengan berbagai lampiran penting, mulai dari matriks SWOT, peta potensi dan rantai nilai komoditas, ringkasan hasil wawancara dan FGD, hingga dataset spasial dan ekonomi. Tidak berhenti di tahap riset, peserta juga terjun langsung dalam pendampingan dan pemberdayaan masyarakat. Selama empat bulan penuh, mereka mendampingi warga, berbagi pengetahuan, serta mendorong kemandirian ekonomi berbasis potensi lokal. 

Adapun perwakilan dari Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran juga ikut berpartisipasi langsung dalam program ini. Salah satu tim yang ditempatkan di wilayah Sumatera dipimpin oleh dosen prodi Ilkom, yakni Ikhsan Fuady, M.Si, bersama dengan Nadia Febryani, M.Si, Defrio Saka Wahid, alumni angkatan 2019, Dahelia Saputri, serta satu mahasiswa dari program studi lain. Sementara itu, Lovie Harleyna, mahasiswa Ilkom lainnya, mendapat penempatan di kawasan transmigrasi Lamunti–Dadahup, Kalimantan Tengah.

Kontrak kegiatan dimulai pada 12 Agustus hingga 9 Desember, dengan keberangkatan peserta pada 26 Agustus 2025 silam. Defrio sendiri ditempatkan di Kawasan Transmigrasi Lagita, Kabupaten Bengkulu Utara, yang mencakup tiga kecamatan: Lais, Girimulya, dan Ketahun. Di sana ia melakukan riset lapangan sekaligus berinteraksi langsung dengan masyarakat. Sementara itu, Lovie menjalankan misi serupa di Kalimantan Tengah, dengan konteks sosial dan budaya yang berbeda. 

Bagi Defrio, kesempatan mengikuti Ekspedisi Patriot merupakan pengalaman yang tak ternilai. “Melakukan riset sebesar ini dan berdampak langsung terhadap masyarakat membuat tanggung jawab untuk memajukan daerah menjadi nyata, terutama dengan pendekatan pembangunan berbasis riset,” ujarnya. Menurutnya, program ini tidak hanya memperkaya pengalaman dan portofolio, tetapi juga membuka jaringan ilmu dan koneksi yang sulit diperoleh di ruang kelas. 

Hal senada disampaikan Lovie. “Saya memang menyukai kegiatan penelitian dan Ekspedisi Patriot adalah kesempatan yang tepat untuk menyalurkan minat sekaligus memberikan kontribusi nyata di lapangan,” tuturnya.

Meski demikian, perjalanan tidak selalu mulus. Defrio mengatakan kendala berupa infrastruktur jalan yang terbatas, jarak antarlokasi yang jauh, hingga birokrasi pengambilan data yang cukup kompleks. Lovie menambahkan, adaptasi terhadap perbedaan budaya dan kondisi cuaca di luar Jawa juga menjadi tantangan tersendiri. Keterbatasan fasilitas di desa penempatan membuat peserta perlu menyesuaikan diri lebih jauh.

Lewat perpaduan antara riset mendalam dan pendampingan langsung, Ekspedisi Patriot diharapkan tidak berhenti pada dokumen akademis semata, melainkan benar-benar membawa manfaat nyata bagi masyarakat di kawasan transmigrasi. Dalam konteks yang lebih luas, Ekspedisi Patriot juga sejalan dengan poin Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB), yakni Goal 8: Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi melalui pemetaan potensi ekonomi lokal. Bagi Defrio dan Lovie, pengalaman ini kiranya dapat menjadi pijakan berharga untuk melangkah lebih jauh, tidak hanya sebagai peneliti atau pendamping masyarakat, tetapi juga sebagai generasi muda yang terus berkontribusi bagi negeri dengan ilmu, kepedulian, dan semangat pengabdian.

Share: