HomeApresiasiMerangkai Cita dari Jendela Internasional!

Merangkai Cita dari Jendela Internasional!

Hai Ilkomers! Siapa di sini yang pernah membayangkan bagaimana rasanya duduk di kelas bersama mahasiswa dari berbagai negara, mempelajari isu-isu komunikasi dari perspektif global, atau merasakan atmosfer belajar di kampus luar negeri? Kesempatan itu ternyata bukan sekadar mimpi, buktinya beberapa mahasiswa Program Studi Ilmu Komunikasi (Ilkom) Unpad berhasil mendapatkan kesempatan tersebut. Tiga di antaranya adalah Risna Putri Khairunnisa, Diva Nauli Maharani, dan Vanilla Verushka.

Risna Putri Khairunnisa atau yang akrab disapa Risna adalah salah satu awardee IISMA (Indonesian International Student Mobility Awards) 2024 yang berkesempatan belajar di University of Colorado Boulder, Amerika Serikat. Ia mengambil mata kuliah yang berada pada ranah media, yakni bidang yang memang ingin ia eksplorasi lebih dalam.

Perjalanannya menjadi awardee tak terjadi begitu saja. Risna memulai proses dari tahap awal, yaitu mengisi biodata, menyusun tiga esai, lalu mengikuti Tes Wawasan Kebangsaan. Setelah melewati tahapan tersebut, ia menghadapi seleksi interview online yang menentukan apakah dirinya layak mengikuti program ini.

Setelah dinyatakan lolos, perjuangannya tidak berhenti. Ia harus menyiapkan keberangkatan selama kurang lebih tiga sampai empat bulan. Mulai dari dokumen perjalanan, persiapan akademik, hingga adaptasi kultur. Semua proses itu dijalankan dengan antusias, karena baginya kesempatan belajar lintas budaya adalah pengalaman yang tidak ternilai.

Berbeda dengan Risna, Diva Nauli Maharani, atau Diva, mengikuti IISMA melalui jalur Co-Funding dan memilih Hanyang University sebagai tujuan belajarnya. Ia memilih fokus studinya berkisar pada ranah media communication. Selama menjalani program ini, ia mengambil beberapa kelas seperti Consumer Behavior and Content Creation, Digital Marketing, Culture of Korea and the Korean Wave, hingga Introduction to Business Analytics.

Menurut Diva, kunci awal mendaftar IISMA adalah kesiapan dokumen dan penguasaan English Proficiency Test. Ia sendiri mempersiapkan IELTS melalui blog, YouTube, hingga mengikuti les bahasa. Selain itu, penyusunan esai menjadi bagian yang paling menentukan. Diva menekankan pentingnya mengenali diri, menonjolkan kekuatan personal, dan tetap terlihat autentik dalam penulisan.

Diva juga aktif mencari masukan dari para alumni IISMA. Diva sempat meminta feedback untuk esai, bertanya soal kehidupan kampus di luar negeri, hingga melakukan mock interview bersama kakak tingkat yang sudah berpengalaman. Baginya, keberanian untuk bertanya dan membuka diri terhadap bimbingan adalah langkah penting dalam proses seleksi.

Meski begitu, IISMA tidak menjadi satu-satunya peluang untuk berkuliah di luar negeri. Perjalanan Vanilla Verushka ke luar negeri tidak lewat program kompetisi besar. Ia justru mendapat kesempatan dari informasi langsung yang disampaikan oleh ketua program studi (kaprodi) Ilkom Unpad. Pada saat itu, Rikkyo University di Jepang tengah membuka kerja sama dengan Unpad untuk pertukaran pelajar. Di Rikkyo, Vanilla memilih College of Intercultural Communication, tetapi pilihan mata kuliahnya tidak dibatasi oleh college tersebut. Ia justru memanfaatkan fleksibilitasnya untuk mengambil mata kuliah dari berbagai bidang, seperti Japanese Language Education dan College of Business. Kebebasan memilih inilah yang membuat pengalaman akademiknya semakin banyak.

Proses administrasinya pun cukup berbeda. Setelah menerima surat pemberitahuan dari kaprodi, Vanilla mengikuti rangkaian seleksi. Mulai dari penyusunan motivation letter dan CV berbahasa Inggris, pengumpulan transkrip nilai serta surat rekomendasi, hingga sesi wawancara. Menariknya, program ini tidak mensyaratkan TOEFL atau IELTS. Hal ini menjadi kesempatan terbuka bagi mahasiswa yang ingin mencoba tetapi belum sempat mengambil tes bahasa. Meski demikian, Vanilla menjelaskan bahwa kuota yang tersedia hanya dibatasi untuk dua orang, sehingga tingkat kompetisinya cukup tinggi. Vanilla menekankan bahwa untuk menemukan peluang seperti ini, mahasiswa sebaiknya aktif mencari informasi. “Mending langsung ke International Office Unpad di rektorat buat nanya. Kalau nunggu info datang sendiri, biasanya nggak bakal nyampe,” ujarnya.

Pengalaman Risna, Diva, dan Vanilla sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB), khususnya poin 4, Pendidikan Berkualitas, yang mendorong akses terhadap pembelajaran inklusif dan kesempatan akademik berstandar internasional. Melalui keterlibatan mereka dalam program pertukaran pelajar, mereka menunjukkan bagaimana pendidikan dapat menjadi pintu untuk memahami dunia secara lebih luas. Selain itu, kerja sama antara Unpad dengan berbagai universitas di Jepang, Korea Selatan, dan negara lainnya mencerminkan semangat TPB poin 17, Kemitraan untuk Mencapai Tujuan, yang menekankan pentingnya kolaborasi global untuk memperkuat kualitas pendidikan tinggi.

Semoga, dengan pengalaman Risna, Diva, dan Vanila tersebut, bisa mendorong Ilkomers untuk semakin semangat dan tertarik mencoba berbagai kesempatan melanjutkan studi ke luar negeri, ya!

Bincang Prestasi Komunikasi Vol #8

Share: