Setiap tanggal 10 Oktober, dunia memperingati Hari Kesehatan Mental Sedunia sebagai momentum untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya menjaga keseimbangan pikiran dan perasaan. Isu kesehatan mental kini tidak lagi menjadi hal tabu, melainkan bagian dari keseharian yang perlu dirawat seperti halnya kesehatan fisik.
Salah satu aspek menarik dalam menjaga kesehatan mental terletak pada bagaimana pikiran dan ucapan kita dapat memengaruhi realitas yang kita alami. Pikiran dan perkataan ternyata bisa membentuk kenyataan melalui fenomena yang disebut self-fulfilling prophecy (Merton, 1968). Artinya, apa yang seseorang yakini, baik positif maupun negatif, dapat memengaruhi tindakan hingga menjadi kenyataan. Misalnya, ketika seseorang percaya dirinya tidak mampu, ia cenderung bertindak sesuai keyakinan itu dan akhirnya gagal. Sebaliknya, keyakinan positif dapat memperkuat motivasi dan membuka peluang untuk berkembang. Dalam konteks komunikasi, hal ini menunjukkan betapa kuatnya pengaruh kata dan pesan, baik yang kita ucapkan pada diri sendiri maupun kepada orang lain.
Sejalan dengan hal tersebut, Coach Devi menekankan pentingnya memulai langkah-langkah sederhana untuk menjaga kesehatan mental. Ia merupakan narasumber dalam kuliah umum Komunikasi Kesehatan yang berlangsung pada bulan September lalu. Dalam kesempatan itu, Coach Devi menjelaskan bahwa setiap orang dapat mulai menjaga kesehatan mentalnya melalui hal-hal kecil, seperti berbicara terbuka dan mencari bantuan profesional ketika dibutuhkan. Ia juga menegaskan perlunya membangun lingkungan yang lebih sehat serta suportif secara emosional. Pesan itu mendorong kita menjaga kesehatan mental dengan berani terbuka, mencari bantuan, dan membangun ruang aman bagi diri sendiri maupun orang lain.
Berdasarkan fenomena tersebut, penting bagi kita untuk membangun komunikasi yang sehat, baik secara internal maupun sosial. Kita bisa mulai dengan berbicara pada diri sendiri dengan penuh empati dan mengganti kritik keras menjadi dukungan. Selain itu, lingkungan sosial juga berperan besar. Kata-kata yang menghargai, memotivasi, dan tidak menghakimi dapat membantu orang lain merasa lebih berarti. Menjaga kesehatan mental berarti juga belajar berkomunikasi dengan lebih bijak dan penuh empati. Hal ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) poin ke-3, yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Di Hari Kesehatan Mental Sedunia ini, mari jadikan kata-kata sebagai alat penyembuh, bukan sumber luka!
