Hai Ilkomers! Pernah lihat ga sih konten-konten di media sosial yang memperlakukan hewan layaknya manusia? Seperti didandani dengan kostum unik, disuapi makanan manusia, atau diajak berpose dengan gerakan tertentu? Konten semacam itu sering kali mengundang tawa dan rasa gemas dari para penontonnya, seolah-olah memperlihatkan hubungan harmonis antara manusia dan hewan. Namun, di balik layar yang tampak menghibur, tersembunyi kisah pilu tentang hilangnya kebebasan satwa yang dipaksa menyesuaikan diri dengan dunia manusia. Keprihatinan atas realitas tersebut dirasakan pula oleh Iwan, mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran angkatan 2022 yang berupaya menggaungkan perubahan lewat tulisan.
Iwan merupakan mahasiswa tingkat akhir yang kini tengah disibukkan dengan berbagai proyek riset sambil menuntaskan skripsinya. Meski demikian, di sela kesibukan akademiknya, ia tetap aktif di organisasi dan kegiatan nonakademik lain. Selama masa kuliah, Iwan pernah menjabat sebagai Kepala Departemen Kemahasiswaan HIMA Ilkom Unpad dan terlibat dalam berbagai kepanitiaan, salah satunya Wildlife Journalism Competition yang mempertemukannya dengan isu konservasi satwa. Berdasarkan pengalaman tersebutlah, minatnya terhadap topik lingkungan mulai tumbuh, khususnya pada upaya pelestarian primata Indonesia.
Kemudian, ketertarikan tersebut membawanya mengikuti lomba penulisan artikel populer yang diselenggarakan oleh Yayasan Inisiasi Alam Rehabilitasi Indonesia (YIARI). Kompetisi ini berfokus pada konservasi satwa Monyet Ekor Panjang (MEP) dan Beruk, dua spesies primata yang rentan mengalami eksploitasi dan perdagangan ilegal. Dalam kompetisi tersebut, Iwan menulis artikel berjudul “Ilusi Kasih Sayang, Realitas Memelihara Primata Ilegal”, yang berhasil meraih Juara 2 dari total 175 karya yang dilombakan.
Artikel tersebut mengupas bagaimana tren konten media sosial telah menormalisasi praktik memelihara primata sebagai hewan peliharaan. Berdasarkan riset kecil yang ia lakukan, Iwan menemukan bahwa banyak unggahan konten yang justru mengeksploitasi primata. Salah satu contoh yang menjadi sorotannya adalah terkait video Monyet Ekor Panjang yang dipaksa mengikuti lomba makan kerupuk 17 Agustus. Menurutnya, konten tersebut menjadi bukti yang memperlihatkan bagaimana hiburan manusia seringkali mengorbankan kebebasan satwa liar.
Dalam proses penulisannya, Iwan menggabungkan pendekatan observasi digital dan wawancara dengan berbagai pihak yang relevan. Adapun pihak yang diwawancara Iwan meliputi dokter hewan hingga lembaga swadaya masyarakat yang bergerak di bidang konservasi. Namun, upaya tersebut tentunya diiringi dengan tantangan tersendiri. Menurut Iwan, kendala utama dalam proses pengerjaan artikel ini terkait cara menjangkau informan yang tersebar di berbagai wilayah. Meski demikian, melalui komunikasi digital dan jejaring yang ia bangun, informasi yang dibutuhkan akhirnya dapat terkumpul dengan baik.
Artikel yang ditulis Iwan tersebut tidak sekadar berisi kritik terhadap praktik pemeliharaan primata, tetapi juga refleksi terhadap dampak sosial dan ekologis dari perilaku manusia yang sering kali mengabaikan keseimbangan alam. Ia menyoroti bahwa di balik konten yang tampak lucu dan menghibur tersebut, terdapat penderitaan satwa yang kehilangan habitat dan kebebasannya. Lebih jauh, praktik tersebut juga menimbulkan risiko bagi manusia, karena primata yang dijadikan peliharaan berpotensi membawa penyakit zoonosis, penyakit menular akibat kontak dengan satwa liar. Lewat karyanya, Iwan berupaya mengedukasi masyarakat agar lebih bijak dalam mengonsumsi dan memproduksi konten digital yang berkaitan dengan satwa liar. Ia menegaskan pentingnya membangun kesadaran bahwa kasih sayang terhadap hewan tidak selalu berarti memiliki mereka, melainkan menghormati kehidupan mereka di habitat alaminya.
Prestasi yang diraih Iwan tersebut mencerminkan pula semangat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB), khususnya pada poin 15: Ekosistem Darat, yang berfokus pada perlindungan keanekaragaman hayati dan pemulihan ekosistem daratan. Berdasarkan tulisan dan riset populernya, Iwan menunjukkan bahwa mahasiswa komunikasi memiliki peran penting dalam menjembatani isu lingkungan dengan publik melalui pendekatan yang edukatif dan reflektif. Semoga prestasi Iwan bisa jadi inspirasi buat Ilkomers lainnya untuk berani bersuara dan peka dengan isu lingkungan di sekitar kita ya!
Bincang Prestasi Komunikasi Vol #4
