Halo Ilkomers! Pernah nggak sih kamu merasa banyak banget ide di kepala tetapi susah banget dituangkan jadi tulisan? Nah, sebenarnya hal ini ternyata wajar banget, lho! Banyak mahasiswa komunikasi yang punya segudang gagasan menarik, tetapi justru kebingungan saat harus merangkainya dalam bentuk tulisan yang runtut dan menarik dibaca.
Nah, di sinilah mata kuliah Penulisan Kreatif hadir sebagai solusinya! Buat Ilkomers yang masih berada di semester 1, kelas ini bisa jadi ruang untuk menyalurkan imajinasi sekaligus mengasah kemampuan menulis dari berbagai sisi. Oleh karena itu, yuk kenalan lebih dekat dengan mata kuliah ini lewat penjelasan dari salah satu dosen pengampunya, Siti Fatimah Zahrah Fibaeti, M.I.Kom.
Apa tujuan dari mata kuliah Penulisan Kreatif?
Secara garis besar, mata kuliah ini dirancang untuk menumbuhkan keinginan dan kebiasaan menulis pada mahasiswa sejak dini. Bagi mahasiswa baru yang baru mulai mengenal dunia akademik, Penulisan Kreatif menjadi pondasi awal untuk mengasah kepekaan terhadap bahasa dan karya tulis.
Di awal semester, mahasiswa diajak menulis secara bebas dan eksploratif, agar mereka lebih berani mengungkapkan ide dan perasaan tanpa takut salah. Setelah UTS, pembelajaran mulai bergeser ke arah penulisan yang lebih sistematis, seperti menyusun artikel atau esai dengan struktur yang lebih teratur. Pendekatan bertahap ini membuat mahasiswa tidak hanya bisa menulis dengan lancar, tapi juga memahami bahwa menulis itu adalah keterampilan yang bisa dibangun lewat kebiasaan.
Selain itu, menurut Siti Fatimah, mata kuliah ini juga menjadi bekal penting untuk menghadapi tugas-tugas lain di perkuliahan Ilmu Komunikasi, seperti pembuatan makalah, artikel ilmiah, maupun laporan riset.
Apakah ada perubahan RPS tahun ini?
Secara substansi RPS Penulisan Kreatif tidak mengalami perubahan besar dalam beberapa tahun terakhir, tetapi terdapat penyesuaian dalam cara penyampaiannya. Pada semester sebelumnya, topik pembelajaran sempat mencakup aspek copywriting dan penulisan di media digital. Kini, fokusnya diarahkan ke penulisan artikel opini, menyesuaikan dengan kebutuhan mahasiswa untuk beradaptasi di era media digital yang dinamis.
Bagaimana metode pembelajarannya?
Kelas Penulisan Kreatif dikenal punya metode pembelajaran yang aktif dan penuh variasi. Dengan bobot sebesar 3 SKS, setiap pertemuan tidak hanya diisi dengan penjelasan teori, tetapi juga dengan praktik menulis langsung melalui berbagai media. Adapun beberapa media yang digunakan mencakup Padlet, WhatsApp Group, dan email.
Selain itu, mahasiswa dibiasakan pula untuk menulis setiap hari lewat tugas dengan konsep diary untuk membentuk konsistensi dalam menuangkan ide. Bagi kelas reguler, pengiriman tugas diary dilakukan setiap hari. Sementara itu, kelas IUP mengumpulkan diary mingguan dalam bahasa Inggris. Perbedaan ini bukan tanpa alasan, tujuannya agar mahasiswa IUP tetap bisa menulis dengan ekspresif tanpa terbebani kendala bahasa.
Selain diary, mahasiswa juga dilatih untuk memperkaya kosakata, mencari sinonim, dan menulis menggunakan pancaindra agar tulisan terasa hidup. Pada setiap pertemuan, dosen biasanya menampilkan pula beberapa karya mahasiswa untuk dianalisis bersama. Dari situ, mahasiswa belajar bagaimana memperbaiki struktur kalimat, memilih diksi yang efektif, dan memahami gaya penulisan yang sesuai dengan konteks.
Bentuk penilaiannya seperti apa?
Berbeda dari kebanyakan mata kuliah yang menitikberatkan penilaian pada hafalan atau uji kognitif, Penulisan Kreatif menilai proses dan perkembangan kemampuan menulis mahasiswa. Tidak ada kuis atau tes hafalan, karena esensi mata kuliah ini terletak pada latihan dan evaluasi tulisan.
Mahasiswa akan dinilai berdasarkan seberapa jauh mereka berani mengeksplorasi ide, seberapa konsisten mereka berlatih, dan bagaimana mereka menyunting karya sendiri maupun karya teman. Dosen lebih berperan sebagai fasilitator yang membantu mahasiswa menemukan suara dan gaya tulisannya sendiri, bukan sebagai penilai yang hanya memberi angka.
Apa saja keterampilan yang diperlukan?
Salah satu keterampilan paling penting agar mampu melalui mata kuliah Penulisan Kreatif adalah membaca. Menurut Siti, banyak mahasiswa baru yang secara refleks menulis dengan gaya berita karena referensi bacaan mereka masih terbatas pada teks informatif. Kebiasaan membaca membantu mahasiswa agar dapat memahami struktur tulisan yang berbeda, misalnya membedakan antara artikel opini dan esai.
Untuk kelas IUP, keterampilan tambahan berupa kemampuan menulis dalam bahasa Inggris dengan tata bahasa yang benar juga tak kalah penting. Namun, yang paling ditekankan tetaplah kedalaman ide dan ekspresi yang orisinal, bukan sekadar ketepatan gramatikal.
Nah, sekarang Ilkomers pastinya sudah punya gambaran besar tentang kelas Penulisan Kreatif kan? Pada akhirnya, Penulisan Kreatif bukan sekadar mata kuliah tentang teknik menulis, melainkan tentang membangun relasi personal dengan tulisan. Mahasiswa diajak memahami bahwa menulis bukan tugas yang menakutkan, melainkan cara untuk berpikir, berekspresi, dan berkomunikasi. Jadi, sudah saatnya Ilkomers mulai berani menulis tanpa takut salah! Siapa tahu, dari tulisan-tulisan sederhana di kelas, lahir karya-karya luar biasa yang bisa menginspirasi banyak orang!
Course 101 Vol #4
