Berangkat dari kecintaannya pada komunikasi dan dunia kreatif, Tania Dewi Nur Azmi membangun Magia, sebuah brand yang bukan hanya menjual produk, tetapi juga menyuarakan keberdayaan perempuan.
“Jalani hidup dengan kerja keras dan ibadah agar seimbang antara dunia dan akhirat.” Itulah prinsip yang dipegang teguh oleh Tania Dewi Nur Azmi, perempuan kelahiran Bandung, 6 Desember 1999. Ia merupakan lulusan Program Studi Ilmu Komunikasi, Fakultas Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran (Fikom Unpad), angkatan 2018. Selain dikenal sebagai content creator, Tania juga merupakan founder brand Magua, label tas lokal yang tidak hanya menjual produk, tetapi juga menyuarakan pemberdayaan perempuan lewat narasi dan desainnya.
Dimulai pada awal tahun 2023, Tania membangun brand ini bersama pasangannya yang kini menjadi suaminya. Bermodalkan pengalaman sang pasangan di dunia bisnis dan jejaring industri tas, serta kekuatan personal branding Tania sebagai content creator dengan basis audiens yang sudah ia bangun sejak kuliah, strategi pemasaran awal Magia pun berjalan cukup efektif.
Saat Magia dirintis, Tania tengah menempuh semester akhir kuliahnya. Ia memanfaatkan fleksibilitas waktu untuk mengatur peran sebagai mahasiswa sekaligus entrepreneur. Tugasnya lebih banyak berfokus pada promosi dan sosial media, yang sejalan dengan kebiasaannya mengelola konten digital pribadi. Sementara itu, urusan produksi lebih banyak ditangani oleh sang pasangan. Keduanya berbagi tugas secara seimbang, menjadikan kerja tim sebagai pondasi keberhasilan.
Pendidikan di Ilmu Komunikasi terbukti sangat relevan dengan pekerjaan Tania hari ini. Ia menyebut bahwa pendekatan ilmiah yang didapatkan di Unpad, seperti riset tren dan perilaku audiens, menjadi bekal penting dalam mengelola strategi konten dan branding Magia. Bagi Tania, membuat konten bukan soal ikut-ikutan, tetapi harus berdasarkan riset dan kesesuaian dengan karakter brand.
Dulunya, Tania mengikuti organisasi Hima Ilkom dan magang di Telkom Indonesia turut membentuk kemampuannya. Di Telkom, ia pernah menjadi content creator untuk proyek pengembangan game bertema budidaya ikan. Tugasnya tidak sekadar membuat konten, tapi juga melakukan riset hingga mencari aset visual dan suara yang dibutuhkan oleh tim developer. Di sinilah Tania menyadari bahwa peran content creator tak melulu soal tampil di depan kamera, tapi juga punya kekuatan di balik layar seperti data, ide, dan strategi.
Namun, membangun bisnis tentu tak selalu mulus. Salah satu tantangan terbesar adalah menjaga stabilitas penjualan di tengah kondisi pasar yang dinamis. Tania dan tim rutin mengevaluasi strategi pemasaran, mulai dari konten, endorsement, hingga pemberian diskon dan voucher sebagai bentuk adaptasi terhadap daya beli konsumen.
Perjuangan itu membuahkan hasil. Dari hanya satu penjahit di awal berdiri, kini Magia telah berkembang dengan dukungan lebih dari dua puluh penjahit. “Ternyata bikin bisnis itu enggak sesimpel kelihatan di media sosial. Tapi karena punya partner yang bisa diajak kerja bareng dan saling belajar, semua tantangan itu bisa kita lewati,” ujar Tania.
Magia terus bertransformasi. Dari gaya yang semula mengusung tema “cute” mengikuti tren, kini brand tersebut mengarah ke konsep yang lebih classy dan timeless. Tania menyadari bahwa riset yang berkelanjutan sangat penting dalam menjaga relevansi dan konsistensi brand.
Tania berpesan bagi seluruh perempuan yang ingin memulai usaha untuk jangan asal ikut-ikutan. Mulailah dengan riset matang tentukan target pasar, pahami kebutuhan audiens, dan terus belajar. Bisnis yang dibangun dari proses dan pengetahuan akan jauh lebih kuat dan bertahan lama.
Lewat Magia, Tania Dewi Nur Azmi tak hanya membuktikan bahwa ilmu komunikasi bisa diterapkan secara nyata, tetapi juga menunjukkan bahwa keberanian untuk memulai dan semangat untuk terus belajar adalah kunci dari sebuah karya yang berdampak.
Kireina Putri Khairunissa
[Ed]
