HomePenelitian dan InovasiSUKA Mencegah Stunting: Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unpad Gelar Demo Masak MPASI untuk Tingkatkan Kesadaran Pencegahan Stunting di Desa Cileles

SUKA Mencegah Stunting: Mahasiswa Ilmu Komunikasi Unpad Gelar Demo Masak MPASI untuk Tingkatkan Kesadaran Pencegahan Stunting di Desa Cileles

Stunting pada anak bawah dua tahun (BADUTA) masih menjadi tantangan kesehatan yang memerlukan perhatian bersama, terutama karena dampaknya akan semakin sulit diatasi setelah anak melewati usia dua tahun. Menjawab tantangan tersebut, mahasiswa Ilkom Unpad menginisiasi kegiatan demo masak MPASI bertajuk SUKA (Suapan Unggul Kuatkan Anak) yang diselenggarakan pada 6 Juni 2026 di Posyandu RW 06, Desa Cileles, Kecamatan Jatinangor. Kegiatan pemberdayaan ini berhasil menarik partisipasi 11 ibu dan pengasuh baduta, melampaui target awal sebanyak 10 peserta yang ditetapkan untuk menjaga efektivitas proses pembelajaran dan pendampingan. 

Sebagai bentuk dari praktikum Mata Kuliah Komunikasi Pemberdayaan, kegiatan SUKA yang melibatkan pihak Puskesmas Jatinangor menyasar Posyandu RW 06 sebagai wilayah dengan tingkat risiko stunting tertinggi di Desa Cileles. Kegiatan ini juga dilatarbelakangi oleh pentingnya intervensi pada masa periode 1.000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) anak. Melalui pendekatan partisipatif dan interaktif, mahasiswa berupaya menghadirkan edukasi yang tidak hanya informatif, tetapi juga mudah dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari. Pendekatan ini diharapkan dapat memperkuat peran keluarga, khususnya ibu dan pengasuh, dalam memastikan pemenuhan gizi anak secara optimal sejak masa awal kehidupan.

Dokumentasi Bersama Mahasiswa, Peserta, Dosen Pendamping, dan Kader Posyandu RW 06 Desa Cileles

Rangkaian kegiatan diawali dengan pemutaran video Iklan Layanan Masyarakat (ILM) yang diproduksi oleh mahasiswa, kader posyandu, dan bidan Puskesmas Jatinangor, sehingga pesan yang disampaikan lebih relevan dengan kondisi masyarakat setempat. Melalui video ini, peserta memperoleh edukasi mengenai pentingnya pembuatan MPASI bergizi, pola pengasuhan yang tepat, serta pengaruh kondisi KEK (Kekurangan Energi Kronis) ibu hamil pada anak. Setelah pemutaran video, peserta aktif mengikuti sesi tanya jawab untuk mendiskusikan berbagai permasalahan yang dihadapi. 

Sebagai inti kegiatan, peserta kemudian dibagi ke dalam kelompok untuk mengikuti demo memasak MPASI secara interaktif yang dipandu langsung oleh mahasiswa. Dalam sesi ini, peserta tidak hanya menyaksikan proses pembuatan MPASI, tetapi juga turut mempraktikkan setiap tahapan secara langsung. Materi yang diberikan mencakup pembuatan MPASI berdasarkan tiga kelompok usia, yakni 6–8 bulan, 9–11 bulan, dan 12–24 bulan. Antusiasme peserta terlihat sepanjang kegiatan, di mana mereka aktif bertanya, berbagi pengalaman, serta mendiskusikan berbagai tantangan dalam memenuhi kebutuhan gizi anak di rumah.

Kegiatan Demo Masak MPASI

Dalam upaya memastikan keberlanjutan program, mahasiswa turut mengajak peserta mengikuti tantangan pembuatan MPASI selama satu minggu yang dicatat pada tracker pemberian mahasiswa. Tantangan ini dirancang untuk mendorong peserta menerapkan pengetahuan yang telah diperoleh secara mandiri setelah kegiatan berlangsung. Selain itu, peserta juga menerima kalender edukatif yang memuat berbagai resep MPASI bergizi sebagai panduan praktis yang dapat digunakan di rumah. Kegiatan kemudian ditutup dengan sesi dokumentasi dan foto bersama antara peserta, kader posyandu, dosen pendamping, dan mahasiswa. 

Di akhir acara, salah satu peserta mengungkapkan, “Acara ini sangat berkesan. Saya mendapat banyak ilmu tentang asupan gizi anak yang baik dan perkembangan anak di masa yang akan datang. Saya selalu mendukung kegiatan seperti ini karena acaranya sangat bagus,” ujar Ibu Shelly. Kegiatan ini menjadi penegas bahwa edukasi berbasis praktik mampu memberikan pemahaman yang lebih nyata dan mudah diterapkan oleh masyarakat dalam upaya pencegahan stunting pada baduta secara mandiri. Lebih jauh, kegiatan SUKA menunjukkan bahwa kolaborasi antara mahasiswa, tenaga kesehatan, dan masyarakat dapat menjadi langkah strategis dalam memperkuat kesadaran kolektif terhadap isu stunting di tingkat desa.

Share: