Sejak dahulu, manusia dan satwa liar hidup berdampingan, berbagi ruang dalam keseimbangan ekosistem. Namun, seiring waktu, makna “kesejahteraan” semakin dipertanyakan. Manusia terus berusaha memenuhi kebutuhannya, sementara satwa liar berjuang mempertahankan habitatnya yang semakin terdesak.
Saat ini, dunia—termasuk Indonesia—menghadapi perubahan lanskap yang masif. Deforestasi akibat pembukaan lahan dan ekspansi industri, seperti pertambangan, telah mengubah wajah alam secara drastis. Akibatnya, konflik antara manusia dan satwa liar semakin sering terjadi karena habitat alami mereka terus menyusut. Ini bukan sekadar tantangan ekologis, tetapi juga panggilan bagi kita semua untuk lebih bijak dalam menjaga keseimbangan antara pembangunan dan kelestarian alam.
Hari Satwa Liar Sedunia tahun ini menjadi momentum refleksi atas keserakahan manusia dalam mengeksploitasi alam. Hal ini juga disoroti oleh Dr. Herlina Agustin, S.Sos., M.T., dosen Fakultas Ilmu Komunikasi sekaligus pakar komunikasi lingkungan. Menurutnya, manusia perlu lebih sadar dan memahami kondisi yang terjadi saat ini.
“Manusia seringkali merasa paling sempurna, padahal kita dan satwa liar adalah bagian dari ekosistem. Jika satwa liar punah, manusia juga akan terdampak,” ujarnya.
Salah satu contoh nyata hubungan timbal balik antara manusia dan satwa liar adalah keberadaan babi hutan. Sering kali dianggap sebagai hama, babi hutan sebenarnya memiliki peran ekologis penting. Kehadirannya membantu menjaga populasi pakan alami bagi macan tutul. Jika babi hutan berkurang, macan tutul bisa kehabisan makanan dan berpotensi menyerang ternak atau bahkan manusia.
Menurut Herlina, kesejahteraan manusia dan satwa liar sama pentingnya. Jika satwa liar dapat hidup dengan baik di habitatnya, maka manusia pun akan lebih aman dan sejahtera di lingkungannya. Salah satu cara untuk mengurangi konflik ini adalah melalui komunikasi. Edukasi dan penyuluhan dapat membantu masyarakat memahami cara hidup berdampingan dengan satwa liar serta langkah-langkah mitigasi konflik.
Sebagai pesan penutup, Herlina mengingatkan kita semua untuk tidak mengganggu habitat satwa liar karena mereka lebih indah hidup di alamnya sendiri.
“Selain itu, kurangi penggunaan pestisida, ya. Yang terdampak bukan hanya serangga, tetapi juga ekosistem tanah dan perairan,” pungkasnya.
Selamat Hari Satwa Liar Sedunia! Mari bersama menjaga keseimbangan alam dan tumbuh tanpa konflik berkepanjangan dengan satwa liar. [Ed]
