Ramadhan selalu menjadi bulan yang dinantikan oleh umat Muslim setiap tahunnya. Meski telah menjalaninya berkali-kali, setiap Ramadhan selalu menghadirkan pengalaman baru yang berbeda bagi setiap orang. Seperti halnya yang dialami oleh Yellow Fellow 2024 yang untuk pertama kalinya menjalani Ramadhan sebagai Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran. Terutama bagi mereka yang berasal dari luar kota dan kini menjalani kehidupan sebagai mahasiswa rantau di Jatinangor. Mereka harus menyesuaikan tradisi Ramadhan dengan kehidupan kuliah dan belajar mengatur diri sendiri jauh dari rumah.
Adita Maulida, mahasiswa angkatan 2024 yang berasal dari Bima, Nusa Tenggara Barat, harus menyeimbangkan antara ibadah puasa dengan kegiatan kuliah, organisasi, dan aktivitas kemahasiswaan lainnya. Ia merasa aktivitas Ramadhannya tahun ini lebih menguras energi dibandingkan saat masih sekolah. Namun, Dita juga menemukan pengalaman baru yang unik selama Ramadhan di Jatinangor, yang berbeda dari kebiasaannya di Bima. Jika di rumah ia biasa membantu ibunya menyiapkan makanan, kini ia belajar memasak sahur sendiri. Dita pun merasa antusias mencoba berbagai resep agar menu sahurnya lebih bervariasi dan tidak hanya ayam terus-menerus. Saat berbuka, ia yang biasanya membeli takjil sendirian di rumah, kini merasa senang bisa melakukan “berburu takjil” bersama teman-teman di Jatinangor.
Fathi Rayyan Muhammad, mahasiswa angkatan 2024 asal Tangerang, Banten, juga merasakan tantangan serupa. Sebagai mahasiswa baru, ia merasa cukup kelelahan mengatur waktu antara perkuliahan dan kegiatan Unit Kegiatan Mahasiswa (UKM) olahraga yang ia ikuti. Namun, menjalani Ramadhan jauh dari rumah justru membuat Fathi menemukan hal-hal baru. Ia menjadi lebih sadar akan pentingnya menjaga kewajiban salat dan ibadah lainnya. Di rumah, Fathi terbiasa dengan sahur yang sudah disiapkan, sehingga ia tidak pernah melewatkannya. Namun di Jatinangor, ia harus memasak sendiri atau keluar untuk mencari makanan. Terkadang, sahur menjadi hal yang terlewat ketika ia merasa malas untuk bangun. Untungnya, Fathi bersyukur memiliki teman-teman yang selalu mengajak sahur bersama atau sekadar mengingatkannya.
Rutinitas kecil seperti itulah yang membuat Ramadhan terasa istimewa bagi setiap orang. Meski pengalaman ini masih baru dan butuh waktu untuk beradaptasi, para mahasiswa rantau tetap merasa diberkahi dengan kehadiran teman-teman yang mendampingi dan mengisi Ramadhan pertama mereka di Jatinangor. Salut untuk semua mahasiswa rantau yang berani menjalani Ramadhan jauh dari rumah. Ingatlah bahwa kamu tidak sendirian. Selamat menunaikan ibadah puasa, Yellow Fellow! (Ed)
