HomeHari BesarMenggali Potensi Artificial Intelligence dalam Pendidikan: Peluang dan Tantangan Mahasiswa di Era Digital

Menggali Potensi Artificial Intelligence dalam Pendidikan: Peluang dan Tantangan Mahasiswa di Era Digital

Setiap tanggal 24 Januari, dunia memperingati Hari Pendidikan Internasional sebagai momentum untuk merefleksikan pentingnya pendidikan dalam mendorong kemajuan masyarakat global. Tahun ini, tema besar yang diusung adalah Artificial Intelligence (AI) dalam pendidikan, sebuah topik yang relevan di tengah perkembangan teknologi yang pesat. Salah satu aspek menarik adalah bagaimana mahasiswa memanfaatkan AI dalam pembuatan karya tulis ilmiah, yang kini menjadi bagian tak terpisahkan dari kehidupan akademik mereka.

Tantri Annisa Hanjani, M.I.Kom., dosen Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran, mengungkapkan bahwa AI telah memberikan kemudahan luar biasa bagi mahasiswa, khususnya dalam hal riset dan penulisan karya ilmiah. Namun, kemudahan ini tidak datang tanpa tantangan. Ada kekhawatiran bahwa mahasiswa cenderung bergantung pada AI tanpa memahami substansi dari apa yang mereka tulis. “…seperti adanya potensi plagiarisme dan dapat menurunkan daya kritis mahasiswa karena ketergantungan..” ujarnya. 

Bukan hanya Tantri, Kunto Adi Wibowo selaku ketua Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran memberikan pandangannya mengenai etika dalam penggunaan AI. Menurutnya, etika dalam akademik dipandang sebagai cara untuk mencapai tujuan. Jika AI digunakan untuk mempercepat pekerjaan, namun hasilnya tidak memiliki substansi yang mengarah pada tujuan akademik secara universal, maka hal tersebut tidak etis. “..meski tidak ada unsur plagiarisme, tetapi terdapat langkah-langkah yang terlewati. Pada akhirnya, pengguna AI tersebut hanya tahu hasil, bukan proses.” pungkasnya. 

Meski memberikan banyak manfaat, penggunaan AI dalam pendidikan tetap menimbulkan dilema etis. Sepakat dengan Kunto, Tantri mengungkapkan bahwa AI seringkali bersifat bias, meski terdapat rujukan yang diberikan, terkadang rujukan tersebut tidak bisa diakses, bahkan fiktif. Sebagai mahasiswa dan akademisi, tentunya kita harus lebih kritis dalam menanggapi hal tersebut. 

Bagi Kunto dan Tantri, penggunaan AI dalam pembuatan karya tulis, skripsi, atau tugas tidak disarankan. Penggunaan AI yang berlebihan menjadikan daya kritis mahasiswa menumpul. Namun jika AI digunakan untuk membantu menstrukturkan pengetahuan, membantu teknis coding sehingga sistematis atau mudah, hal tersebut diperbolehkan. Pada akhirnya, etis dan tidak etis penggunaan AI tergantung dengan tujuan dari penggunanya. 

Pada Hari Pendidikan Internasional ini, Kunto dan Tantri memberikan pesan bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi untuk terus mengembangkan segala potensi yang ada. Pendidikan sangat luas, sehingga mahasiswa diharapkan dapat terus menjelajahi semua ranah yang relevan dengan keilmuan yang ada.

Selamat hari pendidikan Internasional, Yellow Fellow!

Share: