HomeTriviaKala Karya Menggores Luka di Bayang Etika

Kala Karya Menggores Luka di Bayang Etika

Salah satu konten kreator YouTube ternama asal Indonesia, Nessie Judge, baru-baru ini menjadi sorotan publik usai merilis video kolaborasi dengan boy group asal Korea Selatan, NCT Dream. Sayangnya, perhatian tersebut bukan datang karena hal positif. Dalam video yang bernuansa Halloween itu, muncul foto Junko Furuta, korban pembunuhan keji di Jepang pada tahun 1988, yang dijadikan bagian dari dekorasi latar. Penggunaan foto tersebut lantas menuai kecaman luas dari warganet Indonesia, Korea Selatan, dan Jepang karena dianggap tidak pantas serta terkesan menyinggung martabat korban. Banyak pihak juga mempertanyakan etika dan empati Nessie terhadap isu kekerasan dan kemanusiaan yang sensitif itu.

Menanggapi gelombang kritik yang meluas, Nessie segera menghapus video tersebut dan menyampaikan permohonan maaf terbuka melalui akun media sosialnya. Ia menjelaskan bahwa insiden tersebut terjadi akibat kelalaian tim produksi dalam proses pemilihan dekorasi. Nessie juga menegaskan komitmennya untuk melakukan evaluasi menyeluruh agar kesalahan serupa tidak terulang pada karya-karya berikutnya. Meski demikian, tanggapan publik tetap terbelah. Sebagian menilai langkah Nessie mencerminkan tanggung jawab moral, sementara sebagian lainnya memandang peristiwa ini sebagai cerminan kurangnya kepekaan terhadap isu kemanusiaan yang seharusnya dijunjung tinggi oleh seorang figur publik.

Jika ditinjau melalui perspektif etika komunikasi digital, kasus ini kiranya menjadi pengingat bahwa setiap bentuk komunikasi publik senantiasa mengandung dimensi moral dan tanggung jawab sosial. Seorang konten kreator seharusnya tidak hanya dituntut kreatif, tetapi juga harus menjunjung nilai-nilai kemanusiaan, transparansi, dan sensitivitas budaya. Dalam setiap proses produksi, penting bagi seorang kreator untuk menimbang dengan cermat setiap elemen visual maupun simbolik agar pesan yang disampaikan tidak menyinggung nilai-nilai tertentu dan tetap menjaga integritas komunikasi yang beretika.

Lebih jauh, peristiwa ini juga dapat dipahami melalui kacamata komunikasi lintas budaya. Dalam interaksi di dunia digital, nilai-nilai seperti empati, dialog, dan penghormatan terhadap perbedaan menjadi sangat penting untuk membangun pemahaman antarbudaya. Penggunaan simbol, gambar, atau unsur budaya tanpa pemahaman mendalam berpotensi menimbulkan kesalahpahaman hingga luka kultural. Dalam kasus Nessie Judge, penggunaan foto korban kekerasan sebagai dekorasi Halloween memperlihatkan betapa mudahnya batas antara kreativitas dan insensitivitas menjadi kabur ketika rasa hormat terhadap kemanusiaan terabaikan.

Apabila dikaitkan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) ke-16, yaitu Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh, peristiwa ini menegaskan pentingnya menegakkan nilai perdamaian, keadilan, serta penghormatan terhadap hak asasi manusia di ruang digital. Ketidaksensitifan terhadap penderitaan korban tidak hanya melukai ingatan kolektif, tetapi juga menghambat terciptanya ruang digital yang berempati dan berkeadilan. Dengan menjunjung tinggi etika komunikasi dan kesadaran budaya, para kreator diharapkan mampu menghadirkan karya yang tidak sekadar menarik secara visual, tetapi juga mengandung nilai kemanusiaan yang luhur. 

Communication Perspective Article Vol #7

Share: