Jatinangor, 10 Juni 2026 – Mahasiswa Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran melaksanakan program pemberdayaan komunikasi bertajuk “SERASI” (Serai Untuk Sanitasi Bersih) di Desa Cileles, Kecamatan Jatinangor, Kabupaten Sumedang. Program ini dirancang sebagai bentuk upaya kesadaran masyarakat mengenai pencegahan penyebaran penyakit chikungunya, penyakit yang ditularkan melalui gigitan nyamuk dan gejalanya menyerupai demam berdarah dengue (DBD), yang belakangan menjadi perhatian masyarakat setempat.
Chikungunya ditularkan oleh nyamuk Aedes aegypti, yang menyebabkan penderita pada umumnya mengalami demam tinggi, nyeri sendi, serta ruam kulit yang dapat berlangsung selama beberapa minggu. Meningkatnya kasus chikungunya di Desa Cileles mendorong mahasiswa untuk menghadirkan solusi pencegahan yang sederhana, alami, dan mudah diterapkan oleh warga. Berdasarkan keterangan dari Ketua RT 01/RW 09 Desa Cileles, Bapak Toto, terdapat sekitar 40 warga sempat terjangkit chikungunya. Sementara itu, upaya penanganan yang dilakukan oleh pihak puskesmas sejauh ini masih berfokus pada pemantauan kasus dan fogging, sehingga diperlukan langkah pencegahan yang lebih berkelanjutan dan menyasar pada akar permasalahan.
Mahasiswa memilih serai sebagai bahan utama karena kandungan sitronelanya dikenal efektif mengusir nyamuk secara alami, aman bagi kesehatan, serta mudah didapatkan. Proses pembuatannya diawali dengan mencacah batang dan daun serai bersih, kemudian hasil cacahan dihaluskan dengan dicampurkan air menggunakan blender, serai yang sudah dihaluskan kemudian disaring hingga memisahkan ekstrak serai dengan ampasnya, ekstrak serai kemudian dikemas ke dalam botol-botol kecil yang nantinya akan dibagikan kepada warga.

Kegiatan inti program ini menyasar dua kelompok sasaran, yaitu siswa sekolah dasar (SD) dan masyarakat Desa Cileles. Kepada siswa SD, mahasiswa melaksanakan sosialisasi di dalam kelas dengan memberikan edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan lingkungan, bahaya nyamuk, berbagai penyakit yang ditularkan oleh nyamuk, pemanfaatan ekstrak serai sebagai alternatif alami pengusir nyamuk, serta cara pembuatan ekstrak serai. Materi yang sama juga disampaikan kepada masyarakat Desa Cileles melalui metode door to door, namun dengan pendekatan komunikasi yang disesuaikan dengan karakteristik dan kebutuhan setiap warga agar informasi dapat dipahami dengan lebih efektif.
Menyadari bahwa kebiasaan perilaku hidup bersih dan sehat perlu ditanamkan sejak dini, Program SERASI (Serai untuk Sanitasi Bersih) menjangkau kelompok usia dini melalui sesi edukasi khusus bagi siswa Sekolah Dasar di Desa Cileles. Mahasiswa merancang pendekatan yang lebih sederhana dan komunikatif agar pesan kesehatan mudah tersampaikan, dengan memperkenalkan bahaya nyamuk penyebab chikungunya melalui media gambar yang menarik serta interaktif. Metode ini berhasil menciptakan suasana belajar yang menyenangkan sekaligus efektif, anak-anak diajak mengenali ciri-ciri tempat berisiko menjadi sarang nyamuk serta didorong membiasakan diri menjaga kebersihan lingkungan sejak dini. Tingginya antusiasme dan banyaknya pertanyaan spontan dari para siswa menjadi bukti nyata tumbuhnya kesadaran kesehatan lingkungan sebagai modal penting bagi generasi mendatang.
Pada pelaksanaan program door-to-door kepada warga, sebagai tindak lanjut, kelompok mahasiswa berencana memantau penggunaan sampel serai, guna memastikan penerapannya berjalan sesuai arahan dan memberikan hasil yang optimal dalam menekan perkembangbiakan nyamuk di lingkungan sekitar. Devy sebagai ketua kelompok pelaksanaan, menegaskan bahwa pendekatan door-to-door dipilih agar edukasi dapat tersampaikan secara langsung dan personal kepada setiap warga. “kami ingin warga tidak hanya menerima informasi, tetapi juga langsung mempraktekkan pembuatan pembasmi nyamuk alami dari ekstrak serai yang kami perkenalkan. Harapannya, kebiasaan ini dapat diteruskan secara mandiri oleh warga, bahkan setelah program kami selesai” ujar Devy.

Ketua RT 01/RW 09 Desa Cileles, Bapak Toto, menyambut baik inisiatif mahasiswa ini. “Kasus chikungunya di sini sempat cukup banyak, tapi penanganannya baru fogging saja, belum ada pencegahan dari awal. Kalau ada cara alami seperti serai begini, tentu sangat membantu warga,” ujarnya.
Salah satu warga Desa Cileles, Bapak Tarya, mengaku terbantu dengan adanya program ini. “Selama ini kami hanya pakai obat nyamuk biasa. Setelah dijelaskan dan dikasih contoh tentang ekstrak serai ini, ternyata caranya gampang dan bahannya juga ada di sekitar rumah,” Ujar Bapak Tarya.
Melalui program pemberdayaan “SERASI”, mahasiswa berharap warga Desa Cileles dapat lebih waspada terhadap penyebaran chikungunya serta memiliki alternatif pembasmi nyamuk yang alami, murah, dan berkelanjutan. Program ini juga diharapkan mendorong partisipasi aktif warga, termasuk anak-anak, dalam menjaga kebersihan lingkungan guna memutus rantai penyebaran penyakit yang ditularkan nyamuk di Desa Cileles.
