HomeTriviaMengenal Lebih Dekat Mata Kuliah Literasi Media

Mengenal Lebih Dekat Mata Kuliah Literasi Media

Halo Ilkomers! Buat kalian mahasiswa Ilmu Komunikasi Unpad semester tiga, mata kuliah Literasi Media merupakan salah satu matkul penting yang akan kalian temui. Namun, di mata kuliah ini, kita bukan sekadar belajar teori tentang media, lho. Mata kuliah ini dirancang untuk membekali mahasiswa dengan keterampilan nyata agar lebih aktif dan kritis dalam menghadapi arus media yang semakin kompleks. Nah, buat kalian yang penasaran dengan mata kuliah Literasi Media, yuk, simak penjelasan dari Preciosa Alnashava Janitra, S.I.Kom. M.Si, sebagai salah satu dosen pengampu mata kuliah Literasi Media.

Apa tujuan dari mata kuliah Literasi Media?

Menurut Preciosa, tujuan utama dari mata kuliah Literasi Media adalah mengasah literasi media sebagai sebuah skill, bukan sekadar pengetahuan teoritis. Mahasiswa tidak hanya diajak untuk memahami konsep media, tetapi juga dilatih untuk mengakses, menganalisis, hingga mengambil tindakan terhadap fenomena media yang mereka temui sehari-hari. Maka dari itu, literasi media dalam mata kuliah ini diposisikan sebagai keterampilan hidup yang penting, terutama di tengah banjir informasi dan konten digital di dunia modern.

Apakah ada perubahan RPS tahun ini?

Secara garis besar, Rencana Pembelajaran Semester (RPS) Literasi Media tetap berlandaskan pada referensi utama yang sama seperti tahun sebelumnya, yaitu buku Media Literacy karya W. James Potter edisi ke-10. Selain itu, tim pengampu juga menggunakan buku Renee Hobbs sebagai buku rujukan. Pembaruan juga dilakukan pada pengayaan materi dan contoh-contoh yang digunakan di kelas. Mahasiswa lebih sering diajak menganalisis fenomena media yang aktual, mulai dari konten hiburan, berita, hingga iklan. Materi juga diperkuat dengan data dan kasus terkini, seperti perkembangan industri media dan periklanan di Indonesia. Dengan demikian, proses pembelajaran memang dirancang agar lebih kontekstual serta selaras dengan kondisi media saat ini.

Bagaimana metode pembelajarannya?

Pembelajaran Literasi Media dirancang dengan proporsi praktik yang cukup besar. Setiap pertemuan dilengkapi dengan mini activity yang mendorong mahasiswa untuk aktif berdiskusi dan menganalisis. Mulai dari analisis audiens, analisis konten, hingga diskusi mengenai industri media. Salah satu contoh aktivitas yang dilakukan adalah mengamati kebiasaan konsumsi media melalui media sosial, seperti Instagram Reels atau TikTok. Mahasiswa diminta mencatat konten yang muncul dalam kurun waktu tertentu, lalu mendiskusikan pola dan kesamaan konten tersebut. Aktivitas ini menjadi pintu masuk untuk memahami algoritma, kebiasaan doom scrolling, serta situasi media digital saat ini.

Selain itu, terdapat pula kegiatan Litmed Champ. LitMed Champ merupakan salah satu aktivitas pembelajaran yang dirancang untuk membantu mahasiswa melakukan recall materi sebelum UTS dengan cara yang lebih interaktif. Kegiatan ini diawali dengan pembagian kelas ke dalam beberapa kelompok yang diminta mempelajari kembali materi yang telah dibahas. Selanjutnya, mahasiswa mengikuti permainan kelompok yang terdiri dari tiga babak, di mana setiap babak berisi pertanyaan yang mewakili materi sebelum UTS. Proses permainan menggunakan aplikasi bel digital untuk menentukan giliran menjawab antar kelompok. Setelah sesi permainan kelompok, mahasiswa mengikuti kuis individu, mengisi formulir refleksi dan review pemahaman melalui Google Form untuk mengevaluasi kesiapan belajar sekaligus menjadi bahan evaluasi pembelajaran bagi tim pengajar.

Bentuk penilaiannya seperti apa?

Untuk penilaian, UTS dilakukan dalam bentuk esai tertulis yang menekankan kemampuan analisis dan pemahaman kognitif yang dikaitkan dengan fenomena media. Sementara itu, UAS tidak berupa ujian tulis, melainkan proyek akhir. Proyek ini menuntut mahasiswa untuk menunjukkan kemampuan mengakses, menganalisis, mengkreasikan, dan merefleksikan fenomena media melalui analisis terhadap sebuah serial film yang relevan dan terkini. Output yang dihasilkan berupa laporan, infografis, dan presentasi analisis, disertai taking action dalam bentuk rekomendasi program literasi atau mediasi media. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya berhenti pada tahap analisis, tetapi juga diarahkan untuk menghasilkan rekomendasi yang aplikatif dan kontekstual.

Apa saja keterampilan yang diperlukan?

Mata kuliah Literasi Media menekankan literasi media sebagai keterampilan, bukan sekadar pemahaman teori. Mahasiswa dilatih untuk mengobservasi dan menganalisis fenomena media secara kritis, memahami pengaruh media bagi masyarakat, serta mengoptimalkan dampak positif dan memitigasi dampak negatifnya.

Menurut Preciosa, Literasi media memiliki relevansi yang sangat kuat dengan dunia kerja, khususnya di bidang komunikasi. Keterampilan mengobservasi, menganalisis, dan menciptakan konten merupakan kemampuan dasar yang dibutuhkan di berbagai profesi. Mulai dari content creator, analis media, hingga praktisi komunikasi strategis.

Lebih dari itu, mata kuliah ini menanamkan nilai keberlanjutan melalui konsep pay it forward. Mahasiswa didorong untuk tidak hanya melek media bagi dirinya sendiri, tetapi juga mampu mengedukasi lingkungan terdekatnya agar lebih kritis terhadap media.

Pada akhirnya, mata kuliah Literasi Media hadir sebagai bekal penting bagi mahasiswa Ilmu Komunikasi untuk menghadapi realitas media yang terus berkembang. Dengan pendekatan yang kritis, kontekstual, dan aplikatif, mata kuliah ini mendorong mahasiswa menjadi individu yang tidak hanya paham media, tetapi juga mampu berkontribusi secara aktif dan bertanggung jawab di tengah masyarakat digital.

Courses 101 Vol #8

Share: