Setiap tanggal 10 November, bangsa Indonesia memperingati Hari Pahlawan sebagai wujud penghormatan kepada mereka yang telah berjuang dan berkorban demi kemerdekaan. Peringatan ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan momentum untuk mengingat kembali nilai-nilai perjuangan yang menjadi fondasi berdirinya bangsa. Bentuk penghormatan terhadap para pahlawan juga tercermin dalam kehidupan sehari-hari, misalnya melalui penamaan jalan, monumen, hingga gedung pemerintahan dengan nama-nama mereka. Penanda tersebut tidak hanya berfungsi sebagai pengingat sejarah, tetapi juga sebagai simbol bahwa semangat dan pengorbanan para pahlawan tetap hidup di tengah masyarakat hingga kini.
Bandung, sebagai salah satu kota penting dalam perjalanan sejarah Indonesia, turut menyimpan banyak jejak perjuangan yang tak kalah bermakna. Di balik dinamika kotanya yang modern, masih terpatri nilai-nilai kepahlawanan yang mengakar kuat dalam ingatan kolektif warganya. Menariknya, beberapa nama pahlawan yang diabadikan sebagai nama jalan di Bandung mungkin tidak selalu menjadi sorotan di tingkat nasional, tetapi memiliki arti mendalam bagi masyarakat setempat. Adapun nama-nama jalan terkenal tersebut diantaranya adalah Mohammad Toha, Laksamana R.E. Martadinata, dan Otto Iskandar Dinata. Mereka merupakan tiga tokoh pahlawan yang kisah perjuangannya menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas sejarah kota Bandung.
Mohammad Toha
Nama Mohammad Toha melekat kuat dalam sejarah Bandung sebagai simbol keberanian tanpa pamrih. Ia dikenal sebagai salah satu tokoh utama dalam peristiwa Bandung Lautan Api tahun 1946. Pada tahun itu, rakyat Bandung membumihanguskan kota mereka agar tidak jatuh ke tangan Belanda. Toha, yang kala itu masih muda, membawa bahan peledak ke gudang mesiu milik Sekutu di Dayeuhkolot dan meledakkannya bersama dirinya. Tindakan itu menjadi simbol pengorbanan total demi kemerdekaan.
Kini, Jalan Mohammad Toha di Bandung Selatan menjadi pengingat abadi atas semangat patriotisme dan keberanian luar biasa seorang anak bangsa yang memilih mati demi harga diri kotanya.
Laksamana R.E. Martadinata
Berbeda dengan Mohammad Toha, nama Laksamana Raden Eddy Martadinata mungkin lebih sering dikaitkan dengan dunia kemaritiman. Meski begitu, ia juga memiliki ikatan kuat dengan Jawa Barat. Lahir di Bandung pada 29 Maret 1921, Martadinata tumbuh di tengah situasi kolonial yang sarat ketidakadilan. Setelah kemerdekaan, ia bergabung dengan Angkatan Laut dan kemudian dikenal sebagai salah satu perwira paling berpengaruh pada masa awal Republik.
Sebagai Kepala Staf Angkatan Laut (KSAL), Martadinata dikenal teguh memperjuangkan kedaulatan laut Indonesia. Ia gugur dalam kecelakaan helikopter tahun 1966, dan jasanya diabadikan lewat nama kapal perang KRI RE Martadinata serta jalan utama di Bandung Timur. Jalan ini bukan sekadar akses transportasi, tetapi juga simbol dari tekad Indonesia menjaga wilayah perairannya.
Otto Iskandar Dinata
Pahlawan yang satu ini dikenal dengan julukan “Si Jalak Harupat”, yang menggambarkan sifatnya yang berani dan lantang memperjuangkan kebenaran. Otto Iskandar Dinata lahir di Bojongsoang, Bandung, dan aktif dalam berbagai organisasi pergerakan nasional, termasuk Paguyuban Pasundan dan Volksraad. Setelah kemerdekaan, ia menjabat sebagai Menteri Negara dalam kabinet pertama Republik Indonesia.
Namun, perjalanan hidupnya berakhir tragis. Ia diculik dan dibunuh pada akhir 1945, dan hingga kini jasadnya tak pernah ditemukan. Meski begitu, nama Otto Iskandar Dinata tetap hidup, bukan hanya sebagai nama jalan utama yang menghubungkan Bandung dan Soreang, tapi juga sebagai simbol idealisme dan keberanian menghadapi ketidakadilan.
Melalui nama-nama jalan di Bandung seperti Mohammad Toha, R.E. Martadinata, dan Otto Iskandar Dinata, kita diingatkan bahwa warisan sejarah tidak hanya hidup dalam buku pelajaran. Ia juga hadir di ruang-ruang kota yang kita lintasi setiap hari. Setiap nama jalan membawa kisah perjuangan dan nilai yang membentuk identitas kolektif masyarakat Bandung. Mengingat dan memahami maknanya bukan sekadar bentuk penghormatan kepada para pahlawan, tetapi juga bagian dari upaya menjaga keberlanjutan budaya dan sejarah kota. Dengan demikian, semangat Hari Pahlawan selaras dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) ke-11: Kota dan Komunitas yang Berkelanjutan, yaitu mewujudkan ruang hidup yang inklusif, beridentitas, dan berakar pada nilai kemanusiaan serta sejarah bangsa.
Referensi:
Adryamarthanino, V. (2021). Raden Eddy Martadinata: Kiprah, Perjuangan, dan Karier Militer (N. N. Nailufar, Ed.). KOMPAS.com; Kompas.com. https://www.kompas.com/stori/read/2021/06/22/090000879/raden-eddy-martadinata–kiprah-perjuangan-dan-karier-militer
Herlambang, M. L., Kurniawati, K., & Martini, S. (2021). PERAN MOHAMMAD TOHA PADA PERISTIWA BANDOENG LAOETAN API TAHUN 1945-1946. Historiography, 1(2), 156–156. https://doi.org/10.17977/um081v1i22021p156-170
Pangestuti, Y. K. R. (2024). Kenapa Oto Iskandar di Nata Dijuluki Si Jalak Harupat? (W. L. Ningsih, Ed.). KOMPAS.com; Kompas.com. https://www.kompas.com/stori/read/2024/05/12/170000979/kenapa-oto-iskandar-di-nata-dijuluki-si-jalak-harupat-
