HomeTriviaMenilik Gaya Koboi ala Purbaya

Menilik Gaya Koboi ala Purbaya

Dalam dunia politik, gaya komunikasi menjadi salah satu faktor penting yang memengaruhi kepercayaan publik. Di tengah derasnya arus informasi, masyarakat kini tidak hanya menilai kebijakan, tetapi juga cara pejabat publik berbicara dan berinteraksi. Gaya bicara yang tidak tepat dapat memperlebar jarak antara pemerintah dan rakyat, sedangkan komunikasi yang jujur dan terbuka mampu membangun kedekatan dan kepercayaan.

Purbaya Yudhi Sadewa menarik perhatian publik sejak menggantikan Sri Mulyani sebagai Menteri Keuangan Indonesia pada 8 September 2025. Ia dikenal sebagai sosok ekonom yang berbeda dari kebanyakan pejabat negara. Bukan hanya karena kebijakannya, tetapi juga karena caranya menyampaikan pesan kepada publik yang dianggap lebih jujur dan membumi.

Berbeda dengan gaya komunikasi mayoritas politisi, gaya komunikasi Purbaya justru dikenal dengan sebutan “koboi”. Istilah ini bukan berarti kasar, melainkan menggambarkan cara bicara yang ceplas-ceplos, penuh humor, dan apa adanya (Deny, 2025). Gaya komunikasi ini memberi kesan bahwa Purbaya berada di pihak masyarakat. Ia jarang menghindari pertanyaan wartawan dan lebih sering menjawab langsung dengan bahasa yang mudah dipahami (Wibisono, 2025). Selain penggunaan diksi yang unik, Purbaya juga menggunakan nada bicara yang optimis dan menenangkan.

Namun, gaya bicara yang ceplas-ceplos tidak selalu berhasil diterima publik dengan baik. Beberapa politisi lain menerapkan gaya serupa tanpa mempertimbangkan empati dan konteks sosial. Akibatnya, pernyataan mereka sering memicu kontroversi, meremehkan persoalan rakyat, atau bahkan menyinggung kelompok tertentu. Demo besar pada akhir Agustus hingga awal September 2025 menunjukkan bagaimana pernyataan yang tidak berempati dapat memicu kemarahan publik. Saat politisi menyampaikan pesan tanpa kepekaan, gaya blak-blakan justru berubah menjadi arogansi politik yang memperlebar jarak dengan masyarakat.

Meski begitu, Purbaya juga pernah menimbulkan kontroversi sesaat setelah pelantikannya. Ia sempat dikritik karena menyebut tuntutan 17+8 hanya mewakili sebagian kecil suara masyarakat. Beberapa akademisi menilai pernyataannya kurang berhati-hati (Humas Indonesia, 2025). Menurut mereka, gaya bicara blak-blakan tidak masalah jika disertai data yang kuat, apalagi karena Purbaya kini berbicara sebagai representasi lembaga, bukan pribadi. Setelah menyadari bahwa pernyataannya menyinggung publik, Purbaya segera meminta maaf dan memberikan klarifikasi. Ia menyampaikan bahwa hal ini menjadi pembelajaran baginya. Sikap tanggung jawab dan keterbukaan ini menunjukkan bahwa Purbaya tidak hanya berani bicara, tetapi juga berani mengoreksi diri.

Gaya komunikasi publik seperti yang ditunjukkan Purbaya sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) Poin ke-16, yaitu Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh. Tujuan ini menekankan pentingnya pemerintahan yang transparan, akuntabel, dan terbuka terhadap partisipasi masyarakat. Komunikasi yang empatik dan jujur memperkuat kepercayaan publik terhadap lembaga negara, sedangkan gaya bicara yang menyinggung atau tidak sensitif justru melemahkan legitimasi pemerintah di mata rakyat.

Referensi:

Deny, S. (2025, October 12). Top 3: Sederet Gaya Koboi Menkeu Purbaya. Liputan6.com. https://www.liputan6.com/bisnis/read/6182821/top-3-sederet-gaya-koboi-menkeu-purbaya?page=2

Humas Indonesia. (2025). Polemik Etika di Balik Gaya Komunikasi “Koboi” Menkeu Purbaya | Humas Indonesia. Humas Indonesia. https://humasindonesia.id/berita/polemik-etika-di-balik-gaya-komunikasi-koboi-menkeu-purbaya-2935

Wibisono, A. (2025, October 7). Fenomena Purbaya: Ketika Menteri Keuangan Jadi Figur Komunikasi Publik Menyegarkan. Bali Tribune. https://balitribune.co.id/content/fenomena-purbaya-ketika-menteri-keuangan-jadi-figur-komunikasi-publik-menyegarkan

Communication Perspective Article Vol #5

Share: