Pada 21 September 2025, Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Padjadjaran menggelar kuliah umum bertajuk “Peran Media dalam Membentuk Realitas Politik: Perspektif Agenda Setting, Framing, dan Priming”. Acara ini menghadirkan Hussein Abri Dongoran, Jurnalis Tempo sekaligus host program Bocor Alus Politik, sebagai narasumber utama.
Kegiatan kuliah umum ini mengadopsi model hybrid, dengan mahasiswa berkumpul di Auditorium sementara narasumber berpartisipasi via Zoom Meeting. Hussein membuka pemaparannya dengan menyinggung perjalanan Tempo sejak didirikan pada 6 Maret 1971, sekaligus menjelaskan strategi adaptasi di era digital melalui kedekatan dengan audiens, digitalisasi, dan kerja sama lintas pihak.
Dalam pemaparannya, Hussein menegaskan bahwa jurnalisme Tempo berpegang pada kepentingan publik, verifikasi informasi yang ketat, serta independensi editorial. “Tempo selalu berupaya untuk tidak menjadi public relations pemerintah. Kami hanya menyajikan fakta dengan verifikasi berlapis, sehingga opini publik tidak digiring tetapi lahir dari data yang valid,” ungkapnya.
Hussein juga membahas tantangan jurnalisme di era digital, mulai dari rendahnya minat baca, masifnya informasi hoaks dari akun anonim, hingga regulasi yang kerap merugikan media. Ia menjelaskan pula bahwa inisiatif Bocor Alus Politik lahir sebagai respons atas perubahan tren konsumsi informasi, dengan mengemas isu politik melalui video yang tetap merujuk pada laporan investigatif Tempo.
Antusiasme mahasiswa terlihat dalam sesi tanya jawab. Pertanyaan yang diajukan bersangkutan dengan framing berita, keamanan jurnalis di lapangan, hingga cara menjaga kredibilitas media. Hussein menekankan bahwa Tempo memiliki SOP ketat untuk melindungi jurnalis dan narasumber, termasuk hak anonim yang dilindungi undang-undang serta mekanisme evakuasi saat menghadapi ancaman.
Menutup kuliah umum, Hussein mengajak mahasiswa untuk lebih kritis dalam mengonsumsi informasi. “Banyaklah membaca, jangan menelan mentah-mentah informasi dari media sosial, dan dukung media dengan berlangganan agar jurnalisme independen tetap hidup,” pesannya.
Kuliah umum ini sejalan dengan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB), khususnya pada poin ke-16 tentang Perdamaian, Keadilan, dan Kelembagaan yang Tangguh yang menekankan pentingnya akses informasi dan kebebasan pers sebagai pondasi demokrasi. Selain itu, kuliah umum ini juga mendukung poin ke-17 mengenai Kemitraan untuk Mencapai Tujuan melalui kolaborasi antara akademisi, mahasiswa, dan praktisi media dalam membangun literasi politik yang kritis dan berkelanjutan.
