Pada hari ini, 75 tahun yang lalu, terjadi momentum penting dalam sejarah perfilman Indonesia. Tepatnya pada 30 Maret 1950, Umar Ismail memulai proses pengambilan gambar film berjudul Darah dan Doa. Film ini menjadi film pertama yang diproduksi dan disutradarai oleh putra bangsa. Sejak saat itu, Dewan Film Nasional menetapkan tanggal 30 Maret sebagai Hari Film Nasional, yang diperingati setiap tahunnya.
Industri film lokal terus berkembang dari waktu ke waktu. Banyak film luar biasa karya sineas Indonesia yang berhasil diputar di berbagai ajang internasional dan membawa pulang berbagai penghargaan bergengsi. Salah satu contohnya adalah film Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak (2017) karya Mouly Surya. Film ini telah diputar di sejumlah festival film internasional ternama, seperti Festival Film Cannes, New Zealand International Film Festival, Melbourne Film Festival, dan Toronto International Film Festival. Prestasi membanggakan juga diraih oleh film Sekala Niskala (2018) karya Kamila Andini. Film ini memenangkan berbagai penghargaan, di antaranya Best Youth Feature Film di Asia Pacific Screen Awards, Grand Prix of the Generation Kplus International Jury di Berlin International Film Festival, serta Silver Screen Award di Singapore International Film Festival.
Hari Film Nasional merupakan momen refleksi dan apresiasi terhadap perjalanan industri film lokal dari masa ke masa. Peringatan ini juga menjadi momentum untuk membangkitkan semangat dan kepercayaan diri para pelaku film di Indonesia agar terus berkarya dan menghasilkan karya-karya luar biasa. Dengan begitu, industri film lokal dapat terus mencetak prestasi dan mengharumkan nama perfilman Indonesia di kancah regional, nasional, maupun internasional.
Selamat Hari Film Nasional untuk seluruh sineas Indonesia dan para pendukung film lokal! [Ed]
