HomeUncategorizedHari Angklung Internasional: Angklung Sebagai Budaya yang Mendunia

Hari Angklung Internasional: Angklung Sebagai Budaya yang Mendunia

Pada tanggal 16 November, Hari Angklung dirayakan setiap tahunnya oleh berbagai komunitas seni di seluruh dunia. Ditetapkannya hari ini sebagai Hari Angklung Sedunia karena bertepatan dengan diakuinya angklung sebagai Warisan Budaya Takbenda asal Indonesia oleh Unesco pada tahun 2010. Pengakuan ini menjadikan angklung tidak hanya dipandang sebagai alat musik, namun juga menjadi simbol persatuan dan keanekaragaman budaya di Indonesia. Kini, hari angklung telah menjadi momen penting bagi kita untuk memperingati dan menghargai keindahan warisan budaya Indonesia yang telah diakui secara global.

Weny Widyowati, S.Sos., M.Si., dosen program studi Ilmu Komunikasi, turut membagikan pengalamannya bermain angklung dan kontribusinya dalam melestarikan budaya tersebut. Beliau sudah memiliki minat yang tinggi terhadap angklung sejak SD karena rumahnya dekat dengan rumah Daeng Soetigna, penemu angklung modern bernada diatonis. Maka, Weny selalu berusaha bermain angklung setiap ada kesempatan, termasuk saat kuliah di Unpad bersama UKM Lises di tahun 1992. Di Lises, beliau memegang set angklung gantung yang besar sehingga ketika pentas seringkali tidak kelihatan karena posisinya di balik angklung yang berderet-deret. Selain itu, telapak tangannya sering agak lebam karena cara memainkan angklung besar yang berbeda dengan angklung tunggal.

Weny bersama tim kesenian Unpad saat itu juga melakukan “diplomasi budaya” ke universitas di luar negeri di Belanda, Jepang, dan Australia. Mereka biasanya tidak membawa set angklung utuh melainkan hanya beberapa perangkat saja untuk diperkenalkan dalam pameran kecil, workshop sederhana, atau sebagai aksesoris dan tambahan dekorasi. Tetapi setiap ada kesempatan untuk ke luar negeri bersama tim yang cukup besar, selain tim tari-tarian Sunda, mereka selalu berusaha mengadakan workshop sehingga penduduk di negara yang dituju bisa mengenal dan memainkan instrumen musik tradisional, salah satunya angklung. Ada pengalaman menarik yang dialami beliau ketika berkunjung ke Hiroshima Flower Festival, Jepang di tahun 1994. Weny dan tim yang berisikan 5 orang penari tidak membawa angklung sama sekali, tetapi mereka dipertemukan dengan sekelompok diaspora Indonesia dan warga Jepang pecinta Indonesia yang bermain set angklung yang utuh. Maka di kesempatan tersebut, mereka saling berbagi cerita dan bernyanyi bersama. Salah satu lagu Indonesia favorit warga Jepang adalah lagu “Bengawan Solo” ciptaan Gesang. Selain di Jepang, di Belanda juga ada kelompok diaspora pecinta angklung yang juga mengajarkan cara bermain angklung ke anak-anak.

Menurut beliau, angklung termasuk budaya yang mudah diminati orang asing karena instrumennya unik dan sederhana tapi cara pemasangan dan presentasinya menjadi daya tarik tersendiri. Angklung juga bisa diaransemen untuk lagu apapun baik tradisional maupun modern, tetapi tetap memiliki nada irama khas budaya Indonesia. Apalagi sekarang sudah ada teknik latihan efektif dan efisien yang memungkinkan tim kecil untuk memainkan angklung komplit. Metode bermain angklung interaktif yang secara spontan melibatkan penonton juga sering dipraktekkan di pertunjukan-pertunjukan angklung.

Harapan Weny untuk Hari Angklung Internasional ini yaitu beliau berharap agar budaya angklung akan selalu hidup dimana-mana, terutama di Indonesia sendiri. Khususnya di Bandung sebagai tempat Daeng menemukannya dan Udjo Ngalagena mengembangkan dan mempromosikannya. Selain itu, beliau juga berharap agar kelestarian bambu terjaga dan dapat dibudidayakan oleh para pengrajin angklung. Beliau juga ingin mengapresiasi semua orang yang selama ini turut melestarikan dan mengembangkan seni musik angklung. “Semoga angklung semakin dicintai generasi muda dan dikenal dunia sebagai simbol keragaman dan persatuan,” tuturnya.Selamat merayakan Hari Angklung Internasional! (Ed)

Share: