Tepat pada tanggal 23 September, seluruh dunia memperingati Hari Bahasa Isyarat Internasional di setiap tahunnya. Penetapan peringatan ini telah diresmikan oleh PBB didasarkan pada sejarah berdirinya World Federation of The Deaf (WFD) pada tahun 1951. Hari Bahasa Isyarat Internasional menyoroti pentingnya penggunaan bahasa isyarat dan memperjuangkan hak-hak individu, khususnya untuk teman tuli atau tunarungu.
Pada tahun ini, Hari Bahasa Isyarat Internasional mengusung tema “Sign Up for Sign Language Rights” untuk meningkatkan dukungan global atas pengakuan hukum bahasa isyarat. Melalui tema tersebut, seluruh dunia mendorong penerapan Konvensi PBB terkait Hak-Hak Penyandang Disabilitas yang ditetapkan pada Desember 2006. Mengutip data dari WFD, terdapat lebih dari 70 juta teman tuli di seluruh dunia, dengan lebih dari 80% dari mereka yang tinggal di negara berkembang. Saat ini, lebih dari 300 bahasa isyarat yang telah digunakan secara kolektif.
Di Indonesia, terdapat dua bahasa isyarat yang biasanya digunakan, yaitu Sistem Isyarat Bahasa Indonesia (SIBI) dan Bahasa Isyarat Indonesia (Bisindo). SIBI dikembangkan oleh orang dengar dengan mengadopsi Bahasa Isyarat Amerika (ASL) untuk menyesuaikan bahasa Indonesia dalam bahasa isyarat. Sementara, Bisindo dibentuk oleh komunitas tuli untuk memudahkan komunikasi yang terjadi antar teman tuli.
Penerapan SIBI telah diresmikan melalui SK No. 0161/U/2994 tanggal 30 Juni 1994 oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Hingga saat ini, SIBI masih digunakan sebagai bahasa pengantar komunikasi di Sekolah Luar Biasa (SLB). Sementara itu, Bisindo belum diakui secara resmi oleh pemerintah, tetapi masih digunakan sebagai bahasa komunitas teman tuli. Walau demikian, Bisindo menjadi bahasa isyarat yang sering digunakan dalam berkomunikasi.
Perkembangan penelitian mengenai bahasa isyarat dalam berkomunikasi di Indonesia sejauh ini meliputi perbandingan efektivitas antara SIBI dengan Bisindo sekaligus membahas interaksi sosial teman tuli. Berdasarkan penelitian yang dilakukan oleh Nugraheni, dkk. (2021), Bisindo lebih optimal digunakan teman tuli di UIN Sunan Kalijaga karena lebih mudah dimengerti, mudah diperagakan, dinilai lebih efektif dan ekspresif, serta telah menjadi bahasa murni di komunitas tuli. Tatanan bahasa isyarat SIBI dinilai lebih kompleks, sehingga penggunaannya akan lebih sulit daripada Bisindo.
Hasil serupa juga ditemukan oleh Putri, dkk. (2024), yang meneliti pendekatan komunikasi guru dalam interaksi sosial dengan murid tuli. Pada penelitiannya, terdapat 3 media komunikasi yang digunakan dalam pembelajaran, yakni SIBI, Bisindo, dan media visual. Dalam penerapan ketiga pendekatan tersebut, Bisindo menjadi media komunikasi yang sering digunakan oleh siswa.
Selain itu, terdapat juga pengembangan model bahasa isyarat melalui metode machine learning dengan teknologi pengenalan pola atau citra. Penelitian ini dilakukan oleh Sari, dkk. (2023) untuk mengembangkan sistem yang dapat mengidentifikasi gerakan tangan dan menerjemahkannya menjadi teks atau suara yang dapat dimengerti oleh orang dengar. Bisindo digunakan sebagai dasar pengembangan sistem atas saran teman tuli sebagai bahasa isyarat resmi komunitas tuli di Indonesia.
Beberapa penelitian terkini menunjukkan bahwa bahasa isyarat di Indonesia masih terus dikembangkan untuk memudahkan aksesibilitas komunikasi teman tuli. Maka untuk memperingati Hari Bahasa Isyarat Internasional, teman-teman semuanya diharapkan dapat mengambil peran dengan mempelajari bahasa isyarat baik Bisindo maupun SIBI sehingga dapat membantu para teman tuli dalam berkomunikasi. Selamat memperingati Hari Bahasa Isyarat Internasional! (Ed)
Referensi:
Nugraheni, A. S., Husain, A. P., & Unayah, H. (2021). Optimalisasi Penggunaan Bahasa Isyarat Dengan Sibi Dan Bisindo Pada Mahasiswa Difabel Tunarungu Di Prodi PGMI UIN Sunan Kalijaga. Jurnal Holistika, 5(1), 28. https://doi.org/10.24853/holistika.5.1.28-33
Putri, M. P., Budianto, K., Citra Hati, P., H Zainal Abidin Fikri No Km, J. K., Kemuning, K., Palembang, K., & Selatan, S. (2024). Pendekatan Komunikasi Guru Dalam Interaksi Sosial Dengan Siswa Tunarungu (Studi Di SLB B Tunarungu Wicara YPAC Palembang). Sosial Dan Politik, 1(3), 7–27. https://doi.org/10.62383/demokrasi.v1i3.238
Sari, I., Fivrenodi, Altiarika, E., & Sarwindah. (2023). Sistem Pengembangan Bahasa Isyarat Untuk Berkomunikasi dengan Penyandang Disabilitas (Tunarungu). Journal of Information Technology and Society, 1(1), 20–25. https://doi.org/10.35438/jits.v1i1.21
