Setiap tanggal 8 September, UNESCO mengajak seluruh dunia untuk merayakan Hari Literasi Internasional. Tradisi yang dimulai sejak 1967 ini dilakukan untuk meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya literasi sebagai kunci dari salah satu Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (TPB) yaitu Pendidikan Berkualitas. Literasi juga merupakan hak bagi setiap manusia yang diperlukan untuk memperoleh pengetahuan, nilai, sikap, dan kemampuan yang diperlukan untuk hidup.
Perkembangan teknologi yang begitu pesat membantu kita dalam meningkatkan kemampuan literasi karena akses terhadap bahan bacaan menjadi lebih mudah. Tentunya, perkembangan ini juga berpotensi menjadi tantangan di era digital mengingat banyaknya informasi yang tersedia. Untuk menghadapi tantangan tersebut literasi digital menjadi kebutuhan utama yang wajib dimiliki oleh individu agar dapat menerima dan memanfaatkan informasi dengan tepat.
Aliya Zakiya, seorang mahasiswi Ilmu Komunikasi angkatan 2021 yang kerap disapa Ila, mengemukakan pendapat terkait peran literasi digital yang dia rasakan selama ini. Menurut Ila, literasi digital tidak hanya sebatas “bisa menggunakan” saja, tetapi juga memahami, mengolah, dan memanfaatkan suatu konten, informasi, atau media digital dengan lebih bijak, cakap, dan tepat. “Kita hidup di zaman sekarang kan selalu terpapar media digital ya. Saking banyaknya, sampai banjir informasi. Literasi digital membantu kita menyaring informasi apa saja yang kita butuhkan dan informasi mana yang bisa kita percaya”, tuturnya.
Sejauh ini, Ila telah membuat konten berupa artikel dengan topik seputar lifestyle atau education. Hal tersebut membuatnya belajar bahwa setiap konten sudah pasti membutuhkan riset dan sumber yang tepat, relevan, dan faktual. Diperlukan ketelitian dan sumber yang kredibel dalam menyampaikan informasi untuk menjaga kepercayaan audiens. Dalam menentukan sumber, Ila biasanya mengambil referensi dari website atau lembaga resmi yang terpercaya. Ila menyampaikan bahwa literasi digital menjadi kemampuan yang sangat dibutuhkan untuk menyelesaikan seluruh proses pembuatan konten dengan baik.
Sudut pandang lain dikemukakan oleh Defrio Saka Wahid atau Rio, seorang mahasiswa Ilmu Komunikasi angkatan 2022. Dia membahas mengenai pentingnya literasi di era digital yang didominasi oleh kebiasaan untuk memperoleh hiburan dari konten-konten di media sosial yang cenderung kurang berkualitas dan berbahaya untuk perkembangan kognisi anak muda. Menurutnya, budaya membaca buku perlu dikembalikan untuk menggantikan kebiasaan itu. Tetapi dia juga sempat menyinggung tren literasi di media sosial yaitu TikTok yang bernama “BookTok” yang melenceng karena cenderung mengarahkan orang-orang untuk mengonsumsi literatur yang kurang berkualitas, bahkan berbau pornografi. Maka, mirip seperti yang dikatakan Ila, menurutnya literasi itu lebih dari sekadar membaca tetapi juga merupakan kemampuan untuk memilah informasi yang diterima.
Lalu dia juga membahas mengenai bahayanya media digital bagi keberlangsungan hidup para pencipta literatur. Walaupun kemudahan akses terhadap literatur di era digital ini baik, tetapi banyaknya versi bajakan dari bahan bacaan yang tersebar di internet juga dapat merugikan para penulis. Dia berharap ada perhatian lebih dari pemerintah mengenai hal ini karena kemampuan literasi seharusnya menjadi hak semua orang tanpa memandang status ekonominya tetapi seharusnya tidak merugikan para penyedia pengetahuan tersebut.
Maka, mari kita merayakan Hari Literasi Internasional dengan mengingatkan diri kita dan sesama untuk meningkatkan kemampuan literasi. Hal ini dapat dilakukan dengan menyaring informasi yang diterima dengan membiasakan diri untuk mencari sumber yang kredibel dan membaca literatur seperti buku. Selamat Hari Literasi Internasional! (Ed)
